Saking banyaknya yang mau dikatakan dan saking bingungnya harus mulai dari mana sebenarnya, jadilah ketika ingin membuat tulisan ini, diri ini rasanya ingin teriak saja sekeras-kerasnya, ingin berkata “AKU SUKA BERADA DALAM DUNIA ANAK”. Menurut saya kata-kata itulah yang tepat untuk mewakili perasaan dan pengalaman yang saya dapatkan.
Saya suka berada dalam dunia anak-anak, itulah yang memang saya rasakan ketika terjun langsung dalam melaksanakan tugas akhir dari kelas Psikolinguistik. Dimana awal perkuliahan dan ketika dosen pengajar mata kuliah ini sekaligus sudah seperti seorang abang bagi saya dan rekan-rekan yang lain, jujur agak bingung dengan materi dan bentukkan tugas akhir yang diberikannya. Selama kuliah masih cukup banyak yang belum bisa membayangkan akan seperti apa nantinya di Garut, apa yang harus kami lakukan terhadap anak-anak yang mengalami bencana dengan isu kediwbahasaan (Indonesia-Sunda, Sunda-Indonesia). Setiap kali pertemuan, kami selalu diberikan beberapa tayangan video yang berkaitan isu bilingual, tetapi saya rasa itu masih belum cukup untuk memberikan gambaran yang jelas (maaf yah bang). Tapi mau tidak mau, akhirnya tugas satu per satu harus segera kami temui dan selesaikan. Tugasnya pun diawali dengna melihat perkembangan pengucapan anak. Berdasarkan tugas ini saja, saya sangat senang, karena kebetulan subjek yang saya teliti adalah seorang anak kecil di depan pondok kosan saya yang menggemaskan. Secara fisik Chika (yah itu namanya) yang memiliki tubuh gendut, pipi temben dan rambut pirang alami, bisa membuat orang yang baru mengenalnya begitu gemas padanya. Apalagi dia sangat cerewet dan tidak takut pada orang-orang yang baru dikenalnya. Dia sudah saya anggap adik sendiri, sering diajak main ke kosan, lalu memberi tahu tiap kali masuk rumah, harus cuci kaki dan tangan pake sabun. Alhasil tiap kali datang ke kamar, ritual itu yang selau dilakukannya, bahkan saya pernah lupa untuk melakukannya, dia yang secara polosnya mengatakan pada saya “teteh, mau cuci tangan ma kaki dulu”, “tissunya mana, ni basah”. Celetukan dari dia itu membuat saya kagum, ternyata dia masih mengingat apa yang saya katakan padanya (huhuu...jadi terharu). Sejak saat itu, saya mulai perlahan kembali menyukai yang makhluk Tuhan yang bernama anak kecil dan ingin sekali bisa bermain dan bercengkrama dengan mereka. Rasanya ingin sekali kembali masa kecil dan ingin melakukan hal-hal yang dulu tidak pernah saya lakukan. Menyesal rasanya saat tidak bisa melakukan hal-hal yang mungkin bisa membuat saya senang saat kecil hanya karena takut tidak akan disukai orang-orang bahkan dimarahi. Padahal anak kecil itu dimarahi dan menangis itu sangat wajar bukan???. Pengalaman bermain dan berinteraksi dengan anak kecil seperti Chika, bukanlah yang pertama kali, sebelumnya saya juga pernah bermain bersama anak kecil. Waktu itu saya sedang dalam rangka mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN), saat akan menyusun rencana kegiatan dari bidang ilmu Psikologi teman-teman Psikologi yang lain mengusulkan untuk melakukan kegiatan mengajar di suatu playgroup (menjadi juga korban gempa Tasikmalaya beberapa waktu lalu) yang ada ditempat tersebut. Saat mendengarkan hal itu, jujur saya takut banget, takut kalau-kalau saya akan dijahili oleh anak kecil, takut kalau tiba-tiba si anak menangis saat bersama saya, takut kalau saya melakukan suatu tindakan yang akan membuat anak menjadi takut untuk belajar atau bahkan takut masuk sekolah. Perasaan-perasaan itu selalu membayangi diriku ditambah saat saya yang ditunjuk sebagai penanggung jawab yang mengharuskan saya untuk datang setiap hari sekolah demi memastikan apakah program kami berjalan dengan lancar atau tidak. Alamak...bunuh saja saya waktu itu (hahaha...agak lebay kayaknya), disini saya menganggap saya harus bisa bersikap beda dengan teman-teman yang bukan Psikologi dalam menghadapi anak, ilmu dan pengetahuan saya tentang Psikologi dipertaruhkan, nama baik profesi saya pun dipertaruhkan disini, pikiran-pikiran ini selalu membayangi saya setiap hari setiap malam bahkan sampai tiba waktunya saya harus mempresentasikan rencana program kami kepada teman-teman fakultas yang lain, bayangan dan pikiran yang selalu menghantui saya. Tapi ternyata kenyataannya sangat berbeda jauh dari apa yang saya takutkan dan bayangkan.
Gambar disamping ini, kalau saya tidak salah ingat adalah hari kedua ketika kami mulai mengajar di playgroup ini dimana anak-anaknya masih takut dan malu saat akan bergerak sesuai instruksi dari ibu guru mereka. Yup..layaknya gerakan sebelum masuk kelas waktu kita kecil dulu, pasti ada saja gerakan-gerakannya (mungkin sudah pada lupa, saya saja sampai sekarang masih berusaha untuk mengingat-ingatnya, hahaha...). di minggu-minggu pertama saya dan rekan-rekan mahasiswa yang lain ikutan membantu mengajar disana, sudah langsung bisa dekat dengan beberapa anak. Malah kami semua jadi tahu, anak-anak yang mana saja yang sudah mengalami kemajuan dalam hal berinteraksi dengan orang lain, mau berbagi apa yang dia rasakan baik sesama temannya maupun kepada orang dewasa lainnya. Bahkan ada satu anak yang sampai minggu ketiga sekolah di playgroup masih tidak mau lepas dari ibunya dan tidak mau berinteraksi dengan teman-temannya yang lain, bahkan terhadap kami pun dia masih tidak mau. Hingga akhirnya saat kami melakukan kegiatan penyuluhan gosok gigi masal dan belajar tentang gigi, dia tiba-tiba saja mendekati salah satu rekan saya. Kami sangat terkejut akan hal itu dan kami semua saling bergantian mendekati dia dengan sambil bermain lempar-lemparan (sayang kegiatan hari itu tidak sempat saya dokumentasikan, karena teknologi yang bernama handphone tertinggal, hiks..hikss..hiksss...). Semenjak saat itu, semua anak-anak playgroup mulai betah dan datang selalu lebih pagi dari biasanya, hanya untuk bermain dengan teman-temannya dan menunggu kegiatan bermain apa lagi yang kami bawa untuk mereka. Hari demi hari saya pun lalui bersama mereka, bahkan saat saya flu dan tidak terlalu banyak bermain dengan mereka, mereka begitu sangat perhatian pada saya. Mereka tiba-tiba menghampiri saya dan bertanya, mengapa saya memakai masker hari itu, mengapa saya tidak bermain dengan mereka, dan pertanyaan lain yang membuatku saat itu ingin menangis dan ingin sekali mencium mereka sebagai tanda terima kasih saya atas perhatian dari malaikat kecil ini. Pikiran takut saya yang berlebihan waktu dulu, tidak terbukti adanya, bahkan saya ingin sekali setiap hari bersama mereka, meski harus bangun pagi-pagi malam sebelumnya masih harus berkutat dengan materi belajar-bermain, tapi semua itu tergantikan dengan keceriaan dan keinginan mereka untuk bermain bersama orang lain. Saat saya tidak masuk beberapa hari karena sakit maag akut saya kumat dan masuk kembali ke sekolah hari berikutnya, mereka menyadari ketidakhadiran saya saat itu (memang anak kecil itu sangat perhatian pada lingkungan sekitarnya, apalagi dengan orang-orang yang signifikan dalam hidupnya, so hati-hati teman dengan anak kecil).
Pengalaman berinteraksi dengan anak kecil sewaktu KKN membuat saya ketagihan untuk bermain dengan anak kecil lainnya. Ingin kembali bisa merasakan perasaan bahagia saat bermain di usia kanak-kanak, jika ingin tertawa karena puas bermain, tertawa saja, jika ingin menangis karena tidak menyukai suatu hal, menangis saja. Biarkan semuanya itu mengalir begitu saja tanpa harus ada yang ditutup-tutupi dan jika ingin mengencangkan suara saat tertawa atau menangis, lakukanlah jika sehabis itu membuatmu lega. Yups, itulah yang saya rasakan. Tanpa saya sadari pun, selama satu semester ini (semester tujuh) ternyata saya banyak sekali harus berinteraksi dengan anak dikarenakan hampir semua mata kuliah menuntut mengambil datanya pada anak kecil, tidak terkecuali pada mata kuliah Psikolinguistik.
Semua hal itu sedikit membuat saya tidak begitu khawatir, apalagi selama ini pun, saya mendapatkan pelajaran bagaimana penghayatan tubuh dengan menggunakan tubuh anak kecil dan merasakan seperti apa saat dilanda gempa. Akan tetapi hal yang membuat saya kembali menciut saat akan melaksanakan tugas ini adalah saya harus berinteraksi dengan anak-anak yang menjadi korban gempa dan menggunakan dua bahasa (bahasa Sunda dan bahasa Indonesia), agar kami dapat memfasilitasi ekspresi anak-anak korban bencana. Sasaran utama kami adalah anak-anak korban bencana alam, untung saja dosen pengajar mata kuliah ini sangat bijaksana dengan mengijinkan mahasiswanya yang tidak dapat ikut ke Garut, diperbolehkan untuk mengambil data di tempat lain dengan isu yang sama “Kedwibahasaan pada anak”. Hal ini dilakukan berdasarkan keadaan nyata dimana kami sebagai mahasiswa psikologi yang akan berperan sebagai helper, suatu saat akan terjun ke daerah bencana yang berbeda bahasa ibu (bahasa daerah) dan akan membantu anak-anak korban bencana dalam mengatasi permasalahan psikologisnya. Kebetulan, kedwibahasaan yang kali ini menjadi perhatian kami adalah bahasa Sunda dan bahasa Indonesia (kebetulan daerah bencana berada satu lokasi dan bahasa ibu yang sama dengan kami), sehingga memberikan kesempatan belajar yang besar untuk melibatkan diri pada isu penanganan bencana pada anak, mengingat perkembangan bahasa menjadi landasan dasar bagi perkembangan aspek-aspek psikologis lainnya. Karena saya merupakan satu dari beberapa rekan mahasiswa kelas Psikolinguistik yang tidak dapat ikut berpartisipasi di daerah Garut, akhirnya kami memilih melakukannya di sekolah dasar kawasan Sayang, Jatinangor.
Saya yang bukanlah warga asli Sunda tentulah akan merasa kesulitan dan kelabakan, meskipun sudah bertahun-tahun tinggal disini tetapi tidak semua kosakata dapat saya mengerti. Kosakata yang saya tahu dan pahami mungkin bisa dihitung oleh jari dan kebanyakannya adalah bahasa Sunda kasar. Untungnya saja kami diberi kemudahan, yaitu ketika akan berinteraksi dengan anak-anak, kami dapat bersama-sama dengan rekan-rekan asli Sunda. Alahsil, ketakutan saya semakin berkurang, bahkan semakin ingin segera merasakan langsung berinteraksi dengan anak sambil memperhatikan isu dwibahasa. Saya dan rekan-rekan yang tidak ikutan ke Garut dengan berbekal pengalaman, cerita dan foto milik rekan-rekan dari Garut yang di-share-kan, akhirnya dalam waktu empat hari membuat rancangan kegiatan demi melaksanakan proyek akhir mata kuliah ini dan saat hari dimana kami harus mengambil data, sungguh tidak ada perasaan takut. Dipikiran saya hanyalah “saya ingin segera berinteraksi dengan mereka, ingin bermain dengan mereka, ingin melihat isu dwibahasa itu”, tidak ada sedikitpun pikiran rasa takut.
Kami mulai mengambil data sesaat setelah anak-anak ini dibagikan raport dengan dibantu oleh salah seorang guru mereka. Sebelum masuk ke kelas 1, saya memang sudah
meniatkan untuk memperhatikan gerak-gerik anak, bagaimana mana mereka berinteraksi dengan temannya, semua itu saya lakukan demi menghayati dunia anak-anak. Maklum saya dan rekan-rekan yang lain, tidak sempat untuk ikut sesi body movement dan bermain dengan tubuh anak-anak (huaaa...rasanya pengen sekali ikut sesi itu), maka
dengan berbekal observasi kilat, pengalaman waktu di KKN dan mengingat masa kecil saya sendiri, akhirnya saya menemukan beberapa hal yang unik pada anak-anak.
Saat anak-anak sudah tertarik dengan apa yang kita lakukan atau kita katakan, jangan pernah lepaskan itu begitu saja. Ketika si anak sudah mau mulai berkomunikasi dengan kita tanpa harus kita yang memulai duluan, maka jangan tidak memperdulikannya. Peka dan perduli dengan apa yang dilakukan oleh si anak, maka itu sudah sedikit menunjukkan kepada mereka bahwa kita juga tertarik dengan apa yang dilakukan oleh mereka, ingin tahu juga apa yang mereka lakukan. Intinya yang saya lihat adalah anak kecil sama juga dengan kita yang sudah dewasa, ingin dihormati, dihargai, dan diperhatikan apa yang mereka lakukan. Apa yang saya lihat dan yakini itu mungkin secara tidak sadar telah mengantarkan saya dalam berinteraksi dengan anak-anak secara natural. Setelah kami diberikan kesempatan untuk dapat berinteraksi dengan anak-anak dalam kelompok masing-masing, saya mendapatkan pengalaman yang berbeda lagi dari sebelumnya. Awalnya saya masih mengikuti prosedural rancangan games yang sudah kelompok kami buat, tetapi selama melakukannya anak-anak dalam kelompok saya justru tidak ingin terlalu lama dalam kegiatan itu. Memang sebelum memberikan games menyambung kalimat, saya mengajak ngobrol dulu dengan anak sembari bertanya tentang nama, berasal darimana, tinggal dimana, bagaimana perasaan atas nilai raport mereka, dan ketika tahap mengenal lebih jauh tentang mereka itu satu hal yang bisa saya ambil adalah keterbukaan mereka dan perhatian mereka terhadap apa yang tanyakan. Ada beberapa kalimat yang saya gunakan percampuran kosakata bahasa Sunda dan bahasa Indonesia, yang saya ingat kutipan bicara anak pada saat itu adalah saat saya bertanya “ade-ade nu teu tiasa nonton film kartun, sukanya film apa?” (kalimat aslinya, saya suka film.....) dan keempat anak tersebut langsung menjawab secara bersamaan dengan tentunya aksen bahasa Sunda yang kental (meski dalam menjawabnya mereka lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia). Akhirnya saya katakan pada mereka untuk satu-satu dalam menjawabnya, disini saat satu anak menjawab “kalu aku teh sukanya nonton film Dora, aku teh sukanya ma monyet tea, hihiiiii....” dan ketiga anak yan lain berkata “iya sama aku juga..aku juga”, “aku suka bangun jam lima, terus nonton dech”. Ketika saya bertanya pada yang lain, semuanya berkata “ia teh aku juga..aku juga” dan tiba-tiba saja ada satu anak (dari foto diatas, anak disebelah kiri yang menopang wajah), bertanya pada saya “kaka..kaka...kok giginya dipagerin??”, lalu saya berkata “ini dulu yah, karena tetehnya males gosok gigi” dan reaksinya tertawa sambil berkata “kalu aku tiga kali gosok gigi dan gak makan permen, dilarang ma ibu nanti giginya bolong-bolong”.
Kutipan diatas hanyalah satu dari beberapa kutipan anak yang bisa saya ingat. Jika dilihat dari kutipan diatas, saya mencoba mengaitkannya dengan pandangan empiris mengenai mekanisme perolehan bahasa pada anak-anak. Inti pandangan ini adalah language is function of reinforcement. Orang tua mengajar anaknya berbicara dengan memberikan reinforcement (penguatan) terhadap tingkah laku verbal. Dengan pemberian reinforcement, anak belajar memberi nama pada benda-benda secara tepat, sehingga anak mengetahui arti kata-kata. Hal ini dapat terjadi karena setiap kali si anak berbuat suatu kesalahan akan segera dikoreksi oleh orang tuanya atau masyarakat secara verbal lainnya, melalui reinforcement yang selektif. Berdasarkan kutipan diatas, kita bisa lihat bahwa anak diajarkan oleh orang tuanya untuk memberi nama pada benda yang bernama permen, gosok gigi, dan gigi yang berlubang. Anak belajar dari bahasa yang diajarkan oleh orang tuanya, jika dia memakan permen dan lupa menggosok giginya, maka giginya akan berlubang. Selain itu anak juga dapat belajar dari bahasa yang dikatakan oleh saya, bahwa jika tidak ingin dikawat giginya, maka ia harus rajin menggosok gigi. Saya mengambil kesimpulan bahwa apa yang dikatakan oleh anak adalah hasil pengalaman observasi dia terhadap lingkungan sekitarnya dan anak dapat mengekspresikan apa yang mereka dapat melalui pemilihan bahasa yang menurut mereka lebih leluasa dalam menyampaikan apa yang dirasakannya. Dalam pengalaman saya, meski anak mencampur-campur penggunaan bahasanya dan saat berbicara dengan bahasa Indonesia, aksen bahasa Sunda mereka masih saja bisa terasa oleh saya.
Selama berbicara dengan anak, saya berusaha untuk mensejajarkan tinggi tubuh saya dengan tubuh sang anak dan selalu memperhatikan anak yang sedang berbicara. Saya juga berusaha untuk mengikuti ekspresi wajah mereka saat bercerita. Saya pun berusaha mengikuti keinginan si anak, mereka sudah tidak ingin melanjutkan games menyambungkan kalimat dan ingin bermain bebas, akhirnya mereka mengajak saya untuk bermain petak umpet. Saya ikuti kemauan mereka dan berusaha kembali menggunakan tubuh anak kecil saat akan bermain dengan mereka. Hasilnya adalah mereka dan saya semakin akrab dan leluasan dalam mengekspresikan apa yang kami rasakan. Jadi teringat sebuah lagu anak-anak sewaktu saya kecil, “duniaku, dunia anak-anak, tempat berkumpul, bermain dan bernyanyi”, memang benar dunia anak-anak itu penuh dengan keceriaan, sayang sekali melewatkannya begitu saja atau tidak membantu anak merasakan dunia yang tidak pernah ada beban. Satu saran saya lagi adalah lebih sering lagi melakukan body movement dan memakai tubuh anak-anak saat akan berinteraksi dengan anak, karena hal itu akan sangat membantu. Saat kita tidak bisa menggunakan bahasa ibu anak dengan fasih, masih ada cara lain yang dapat kita lakukan agar anak mau mengekspresikan apa yang dirasakannya. Lebih jeli dengan apa yang kita punya yang masih bisa kita gunakan dalam relasi menolong, terlebih pada anak. Berinteraksi dengan anak kecil sebenarnya tidak sesulit apa yang kita duga dan kita takutkan, toh kita dulu juga anak-anak, harusnya bisa merasakan bagaimana dan apa yang dirasakan oleh anak.
Mungkin segitu dulu yang bisa saya bagikan kepada yang lain atas pengalaman saya saat melakukan tugas mata kuliah Psikolinguistik ini. Sebenarnya masih banyak yang ingin saya utarakan tapi apa daya, karena terhambat oleh laptop saya yang sangat lemot ini, akhirnya saya memutuskannya untuk menyudahinya saat ini dan akan melanjutkan lagi dalam tulisan berikutnya (insyaallah ada di blog saya lagi). Apa yang saya rasakan selama melakukan kegiatan ini hanyalah rasa suka cita, tidak ada duka maupun sedih sekalipun. Karena memang mungkin saat ini saya membutuhkan untuk bermain dengan anak-anak atau memakai tubuh anak-anak. Intinya, SAYA SENANG BERADA DALAM DUNIA ANAK-ANAK.
Sumber:
Mar’at, Prof. Dr. Samsunuwiyati, Psi. Psikolinguistik, Suatu Pengantar. 2009. Bandung: PT Refika Aditama.