SELAMAT TAHUN BARU 2010 TEMAN-TEMAN PSIKOLOGI UNPAD TERCINTA
Gimana kabar kalian di awal tahun 2010 ini????. Smoga kita slalu diberi kesehatan oleh Tuhan YME, amiennnn.. Btw, kalian dah pada punya resolusi untuk tahun ini?? Smoga resolusinya bisa tercapai di tahun ini, aminn (sekali lagi diaminkan yah, hehhehe...). resolusi untuk setiap orang tentu berbeda-beda, ada yang berkaitan dengan kesuksesan akademik, kehidupan pekerjaan, ada yang tentang pola hidup sehat, pernikahan, dapet pacar baru, dan lain-lain *sesuka hati kalian, slama itu yang terbaik buat kalian, CAIYOOOOOOO!!!!!!!.
Kali ini, ijinkan saya untuk berbagi pengalaman yang saya dan mungkin teman-teman peserta GIOK 2009 kemarin dapatkan setelah melakukan kegiatan kunjungan ke beberapa instansi yang ada kaitannya dengan ilmu dan profesi psikologi. Pengalaman yang saya dapatkan akan coba dituangkan dalam beberapa edisi, mengingat keterbatasan tenaga dan waktu, akan tetapi saya berharap semua ini tidak akan mengurangi apa yang saya pelajari dan tidak mengurangi apa yang bisa Teman-Teman dapatkan.
Seperti yang Teman-Teman ketahui sebelumnya, bahwa di tahun 2009 kemarin ada satu kegiatan BEM Fapsi kita yang namanya GIOK (Go Improve Our Knowledge). Yup, seperti namanya pula, kegiatan ini sengaja diperuntukan bagi kita-kita mahasiswa yang haus akan pengetahuan dan pengalaman melebihi apa yang kita dapatkan di dalam kelas kuliah. Selama dua-tiga tahun ini, kita sudah banyak sekali mendapatkan teori-teori psikologi dan mendengarkan sedikit pengalaman dari para dosen tercinta akan ilmu dan profesi kita. Setiap kali mendengarkan pengalaman mereka tentu di hati kecil kita, pernah terbesit akan hal “KAPAN SECH KITA BISA MERASAKAN HAL ITU??? DAN SEPERTI APA SECH YANG SEBENARNYA DI KEHIDUPAN KERJA AKAN ILMU & PROFESI PSIKOLOGI ITU??” ato kadang-kadang klu mendapatkan teori-teori yang sedikit membingungkan kita, terkadang kita akan berkomentar seperti ini “DUH....GAK KEBAYANG NII..PRAKTEKAN LANGSUNG DUNK!!!”. Yah kurang lebih itulah yang saya rasakan dan mungkin juga beberapa teman (maaf yah klu tdk sesuai, hahahaha...). ditambah lagi, saat kita sudah mulai memasuki masa-masa akhir kuliah ato lebih tepatnya tinggal selangkah lagi menuju skripsi, selangkah lagi menuju sarjana Psikologi, selangkah lagi bekerja dan selangkah lagi membina rumah tangga. Nah lo, bekerja??? Dah pada kebayang belum bakal kerja dimana, sebagai apa, kerjanya nanti bakal kayak apa, apa aja yang harus dipersiapkan dari sekarang, dan lain-lainnya, yang mungkin ini terkadang baru benar-benar kita sadari sesaat setelah kita LULUS nanti. Sekarang aja klu saya blh cerita, masih ada beberapa alumni kita yang dah pada LULUS tapi belum pada dapet kerjaan (yah, gk tw pastinya apa sech), tapi kan sayang banget gitu waktunya. Akhirnya BEM Fapsi kita pandai sekali dalam melihat situasi seperti ini, mereka akhirnya mengadakan satu kegiatan yang dapat memfasilitasi itu semua, dan diberilah nama GIOK (setelah dirubah dari nama awalnya yaitu BH).
GIOK untuk yang pertama kalinya, mengeluarkan ALBUM yang bertajuk Watching, touring the psychology profession, bisa dibilang oleh saya cukup berhasil memfasilitasi pesertanya. Saat itu mereka menyuguhkan dalam beberapa rangkaian kegiatan, yaitu NonBar Good Will Hunting (menceritakan tentang peran psikolog dalam konseling), kunjungan ke Badan Narkotika Nasional (melihat aplikasi dari profesi psikologi dari bidang klinis dan sosial), kunjungan ke Marketing Research (melihat proses menganalisis konsumen maupun advertising- mengenai profesi psikologi di bidang industri atau organisasi) dan yang terakhir ke Dinas Psikologi TNI AU (melihat profesi psikologi dalam dunia penerbangan untuk menangani masalah-masalah psikologis).
Nah masih di tahun yang sama pula, GIOK kembali mencoba untuk memberikan kesempatan kepada teman-teman yang di GIOK sebelumnya kurang beruntung*haduh bahasanya,hahahahha....kali ini GIOK 2009 mengeluarkan ALBUM yang bertajuk Touring and learning the psychology profession! (TERIMA KASIH UNTUK BEM 2009, dah mau ngasih kesempatan lagi). Untuk album sekarang, GIOK 2009 melakukan kunjungan ke dua tempat, yaitu Mitra Netra dan Psychological Care Center Smartalent.
Edisi kali ini, saya akan berbagi pengalaman saat berkunjung ke Mitra Netra, Jakarta (11 Desember 2009). Apa sih Mitra Netra?? Hubungan dengan ilmu psikologi kita apa??. Mitra Netra itu, seperti namanya Netra, berarti ada hubunganya dengan mata-mata gitu kan. Nah itulah kesan pertama kali saya saat mendengarnya dari salah seorang anggota panitia saya (thanks to Budi 07). Yayasan Mitra Netra itu adalah suatu LSM yang bergerak di bidang pendidikan, pengembangan dan peningkatan kesejahteraan sosial tuna netra yang didirikan pada 14 Mei 1991 oleh beberapa orang tuna netra juga. Di tempat ini meski kecil dan mungkin orang Jakarta sendiripun tidak banyak yang mengetahui keberadaannya, saat tiba di sana, kalian akan sangat kaget. Kaget karena kagum kepada mereka, kaget karena kalian mungkin akan merasa kecil. Saya bisa bilang seperti itu, karena saya merasakan sendiri, mereka yang ada di situ semuanya adalah para tuna netra, tapi coba tebak, apakah orang-orang yang bekerja disitu orang normal denan penglihatan yang normal??. SALAHHH...disini bahkan para karyawannya itu juga tuna netra, HEBAT gak sech. Saat sharing pun, saya dibuat terperangah dengan apa yang sudah dilakukan oleh Mitra Netra untuk para tuna netra. Cukup banyak tuna netra yang mereka tolong itu sekarang SUKSES loh di masyarakat.
Sharingnya apa aja yah??..yah ada banyak, misalnya pihak Mitra Netra dengan baik hatinya menayangkan sebuah film yang menggambarkan kondisi tuna netra di Indonesia, jenis-jenisnya. Kemudian, dipaparkan pula tentang kehidupan pendidikan para tuna netra yang belum begitu diperhatikan di Indonesia yakni tidak lebih dari 5% anak tuna netra yang bersekolah dan fasilitas yang mereka dapat di sekolah pun belum memadai untuk pengembangan potensi mereka sebagai tuna netra. Selain itu, juga diceritakan mengenai yayasan Mitra Netra sebagai tempat yang membantu memfasilitasi tuna netra untuk menjalani pendidikan yang layak. Yayasan Mitra Netra kemudian berkembang untuk memberikan layanan-layanan khusus lainnya seperti layanan tutorial (konsultasi pelajaran), belajar komputer, rehabilitasi mental bagi para tuna netra yang baru mengalami kebutaan yang meliputi konseling, pelatihan membaca dan menulis huruf braile, dan pelatihan orientasi dan mobilitas. Semua layanan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup tuna netra. Penjelasan mengenai layanan-layanan yang ada di Mitra Netra , disampaikan oleh Ibu Rini selaku pengembang pendidikan tuna netra yang komprehensif di Mitra Netra. Layanannya itu antara lain ada layanan informasi dan advokasi ke sekolah umum, layanan pendampingan belajar (tutorial), layanan konseling dengan sesama tuna netra (yang jadi konselinya juga seorang tuna netra juga), layanan berupa pelatihan/ kursus kemandirian (berupa pelatihan mengetik 10 jari, pelatihan menggunakan komputer/ laptop dengan program khusus untuk tuna netra (screen reader, meldict), pendidikan mental aritmatik sempoa, dan lain-lain.)
Di Yayasan Mitra Netra juga, kita mendapatkan satu ttipan yang sangat berharga, yaitu menurut Yayasan Mitra Netra, Psikologi mempunyai peranan yang sangat penting dalam penanganan tuna netra, teman-teman mahasiswa Psikologi dapat melakukan penelitian berupa kajian psikologis mengenai tuna netra, seperti metode pembelajaran bagi tuna netra, dan Mitra Netra SANGAT TERBUKA untuk hal-hal tersebut (mau membantu teman-teman mahasiswa dalam mengembangkan program-program atau layanan untuk tuna netra). Selain itu, Mitra Netra juga mempunyai program kampanye kesadaran “Gerakan SERIBU BUKU” yang membutuhkan relawan untuk melakukannya. Kalau teman-teman mahasiswa berminat, silakan bergabung, disini teman-teman dapat berkontribusi dengan mengetik ulang buku-buku referensi untuk dijadikan buku braile sehingga dapat digunakan oleh tuna netra.
Ibu Rini berbagi cerita kepada kita-kita tentang model pendidikan untuk tuna netra yakni pendidikan terpadu dan inklusi. Pendidikan terpadu masuk ke Indonesia pada tahun 1980an oleh Hellen Keller*tau kan yah??, tetapi pendidikan terpadu ini kurang berhasil dikembangkan karena kurangnya minat sekolah-sekolah di Indonesia untuk mengembangkan pendidikan ini dan kurangnya motivasi, pengetahuan, dan gaji untuk para guru pendamping khusus tuna netra. Pendidikan terpadu ini merupakan pendidikan untuk tuna netra yang mendorong tuna netra untuk belajar di sekolah umum tanpa adanya dispensasi/fasilitas khusus yang membantu tuna netra untuk belajar. Jadi, pada sistem terpadu ini para pelajar tuna netra dipaksa untuk belajar layaknya siswa-siswi pada umumnya belajar. Berbeda halnya dengan pendidikan inklusi yang menyediakan fasilitas atau layanan untuk membantu tuna netra belajar disesuaikan dengan keterbatasan yang dimilikinya. Pendidikan inklusi ini sama seperti pendidikan terpadu, memberikan kesempatan untuk para tuna netra berbaur dengan masyarakat umum tetapi dengan lebih mempertimbangkan dan menyesuaikan dengan keadaan tuna netra untuk membantu atau memudahkan tuna netra menempuh pendidikan. Di Mitra Netra sendiri pendidikan inklusi inilah yang digunakan. Selain itu, untuk pengembangan pendidikan inklusi ini dibutuhkan kerja sama oleh empat pilar pendidikan yakni sekolah, orang tua, masyarakat, dan pemerintah agar dapat dicapai hasil yang memuaskan.
Sesi diskusi atau tanya jawab:
o (1) Hambatan-hambatan dapa saja yang dihadapi oleh Mitra Netra dalam pengembangan pendidikan untuk tuna netra ini selain tidak sesuainya kurikulum pendidikan yang ada saat ini dengan kondisi tuna netra? (2) Dalam bimbingan konseling, metode apa saja yang digunakan untuk membantu pelajar menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapinya?
Jawaban: (1) Hambatan yang dihadapi banyak, misalnya penolakan dari sekolah-sekolah terhadap pelajar tuna netra, guru-guru di sekolah yang tidak mau ribet dalam menangani pelajar tuna netra dan tidak mau tahu bagaimana tuna netra sebaiknya belajar, dan lain-lain. Namun, hambatan tersebut bagi Mitra Netra dijadikan tantangan untuk dicari dan diperoleh penyelesaian yang tepat dalam mengahadapi tantangan tersebut sehingga dapat membantu para tuna netra dalam belajar, meningkatkan kualitas hidup para tuna netra. Dengan adanya hambatan tersebut lah, maka muncul layanan-layanan yang ada di Mitra Netra saat ini. (2) Banyak metode konseling yang digunakan, contohnya coaching (membina/ membangun kesenasiban antara tuna netra baru dengan tuna netra konselor), self disclosure (konselor yang juga tuna netra menceritakan/ berbagi pengalaman mengenai kehidupannya ketika sekolah dulu pada tuna netra baru sehingga diharapkan dapat meningkatkan penerimaan terhadap kondisinya saat ini).
o (1) Apakah bimbingan konseling ini membutuhkan biaya? (2) Apakah terdapat beasiswa/program khusus yang dapat membantu pelajar tuna netra yang membutuhkan bantuan (tidak mampu secara ekonomi) secara free (bebas biaya)?
Jawaban : Sebetulnya, layanan-layanan di Mitra Netra membutuhkan biaya untuk pelaksanaannya misalnya untuk menggaji para guru pendamping khusus. Untuk masalah dana ini Mitra Netra mencari dan memperolehnya dari donatur-donatur yang Mitra Netra usahakan sendiri.
o (1) Bagaimana caranya mendapatkan program meldict bagi yang berminat? (2) Apakah Mitra Netra bersedia menampung tuna netra dari luar kota yang memerlukan layanan dari Mitra Netra?
o Jawaban : (1) untuk mendapatkan program meldict ini, mungkin terlebih dahulu dengan berkirim surat (email) dengan Mitra Netra sebagai bahan pertimbangan bagi Mitra Netra untuk memberikan program ini, dapat atau tidaknya diberikan pada yang bersangkutan karena untuk program ini Mitra Netra sendiri memiliki ikatan perjanjian dengan pihak Citibank selaku donatur dalam pembuatan dan pengembangan program ini, yakni bahwa program ini tidak untuk diperjualbelikan secara bebas dan didistribusikan khusus untuk membantu tuna netra.
o Apakah di Mitra Netra terdapat fasilitas untuk bermusik atau seni bagi tuna netra?
Jawaban : Ada, salah satunya adalah teater meldict. Pada teater meldict ini, tuna netra dapat belajar bermain teater. Saat ini juga sedang dikembangkan simbol-simbol braile untuk musik guna memudahkan para tuna netra yang ingin belajar musik.
o Layanan di Mitra Netra, apakah ditujukan khusus untuk anak-anak sekolah, TK sampai kuliah, atau apakah ada layanan untuk tuna netra yang bekerja?
Jawaban : Ada layanan untuk tuna netra yang bekerja, yakni pelatihan kerja untuk melatih keterampilan-keterampilan yang sifatnya mendasar untuk bekerja sehingga tuna netra netra lebih siap untuk menghadapi dunia kerja. Contohnya, kursus komputer dan yang terbaru adalah soft skill free employee training bekerja sama dengan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
o (1) Apa perbedaan antara buta parsial dengan buta total? (2) apakah biaya yang Mitra Netra peroleh hanya dari donatur, lalu adakah peran pemerintah di dalamnya?
Jawaban : (1) Kalau buta parsial (low vision), tuna netra masih dapat melihat pada jarak-jarak tertentu atau hal yang dilihat dengan gradasi yang beragam, misalnya ada tuna netra yang hanya bisa mendeteksi warna atau mendeteksi bentuk (bentuk yang kasar) saja atau hanya bisa merasakan cahaya. Ciri-ciri buta parsial: suka sulit untuk mengikuti gerakan saat dicontohkan, sering salah meletakkan barang atau memanggil teman, menabrak benda di sekitarnya, membaca dalam jarak yang sangat dekat. Berbeda dengan buta total (totally blind), tuna netra sama sekali tidak dapat melihat apa pun, merasakan cahaya pun tidak. (2) Peran pemerintah masih sangat kecil terutama untuk masalah financial, tetapi saat ini bantuan yang diberikan pemerintah sudah lebih baik dari yang sebelum-sebelumnya. Pemerintah sudah mulai peduli akan masalah tuna netra ini tetapi masih belum serius dalam menanganinya, kebanyakan donatur berasal dari luar Indonesia karena mereka lebih peduli terhadap kondisi tuna netra di Indonesia. Sampai saat ini Mitra Netra masih berusaha melakukan pendekatan dengan pemerintah untuk mau bekerja sama mengembangkan layanan-layanan untuk meningkatkan kualitas hidup para tuna netra. Selain itu, Mitra Netra juga berusaha menggandeng semua elemen (empat pilar tadi) terutama masyarakat agar mendapatkan hasil yang memuaskan.
o Adakah tuna netra baru yang sampai mengalami depresi atau butuh penanganan khusus, dan bagaimana penanganannya?
Jawaban : Banyak tuna netra yang mengalami depresi, merasa hidupnya tidak berguna, bahkan sampai ingin bunuh diri. Penanganannya harus intensif dan bertahap, tidak bisa langsung diberi pelatihan keterampilan-keterampilan karena tidak semua tuna netra baru siap menerima kondisi mereka. Awalnya, dilakukan pendekatan dulu terhadap mereka istilahnya menjadi “best friend” dulu dengan sharing pengalaman dan dukungan-dukungan yang dapat memotivasi mereka untuk mau dan dapat menerima kondisi diri mereka. Bentuknya berupa pendampingan pribadi dan keluarga. Jika depresinya sangat berat sehingga dapat membahayakan diri sendiri maka konselor tidak dapat bekerja sendiri tetapi bekerja sama dengan pihak lain seperti psikiater.
Kurang lebih itulah yang dapat saya bagikan kepada Teman-Teman, jika ada kekurangan maupun kesalahan, mohon maaf sekali lagi. Semoga ada banyak hal yang bisa kita petik dan kita lakukan setelah membaca tulisan ini. Sampai ketemu lagi, di EDISI GIOK 2009 berikutnya. JANGAN SAMPE KETINGGALAN.
NB: TULISAN INI BISA DI LIHAT DI FB SAYA (DIAH AGUSTANTIA ULOLI), BLOG (//diahuloli.blogspot.com),
Tidak ada komentar:
Posting Komentar